Berjabat Tangan Dengan Pria

Aku beberapa tahun silam saat duduk dibangku kuliah, saat berdiskusi yang dilakukan oleh dosen kami yang mengajarkan Al Qur’an dan Hadits tentang " Apakah yang dimaksud dengan batalnya wudhu’ seorang lelaki bila bersentuhan dengan wanita? Apakah hal itu berarti bahwa wanita itu najis? " Selanjutnya, sang dosen meminta kepada para mahasiswa untuk memberikan komentar atau jawabannya.

Jawaban dan komentar para mahasiswa berbeda-beda: di antara mereka ada yang mengatakan :" Sesungguhnya yang menetapkan demikian hanyalah madzhab Syafi’i semata." Di antara mereka ada juga yang menafikkan pengertian najisnya wanita karena batalnya wudhu’ lelaki bila bersentuhan dengannya.Demikian seterusnya.

Sudah barang tentu jawaban yang paling sederhana adalah perertian kebalikannya, yaitu bahwa wanita pun menjadi batal wudhu’nya karena bersentuhan dengan lelaki lain yang bukan mahromnya, maka apakah dengan demikian dikatakan bahwa lelaki itu najis?

Duduk permasalahan yang sama terjadi pula dalam masalah larangan lelaki berjabat tangan dengan wanita lain, karena sesungguhnya orang-orang yang suka menimbulkan kehebohan menyorotkan pandangan mereka hanya pada larangan bagi seorang pria berjabat tangan dengan wanita lain. Padahal larangan yang sama ditujukan pula pada jabat tangan yang dilakukan oleh seorang wanita dengan lelaki lain.

Jabat_tangan_1
Di antara realita yang sangat indah berhubungan dengan masalah jabat tangan ini adalah kisah yang diceritakan oleh Prof. Mahmud Mahdi Al Instambul dalam bukunya yang berjudul Cinderamata Pengantin. Beliau mengatakan di dalamnya bahwa pernah seorang ulama sholih diundang ke suatu perjamuan. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan seorang wanita yang bertugas menyambut kedatangan para tamu. Wanita itu pun mengulurkantangannya untuk berjabat tangan dengan orang sholih itu, tetapi orang sholih itu menolaknya sehingga dari roman muka wanita itu rasa kecewa.

Tidak lama kemudian orang sholih itu memanggil wanita itu dan berkata kepadanya : " Saya ingin meminta maaf kepadamu.Bolehkah aku berterus terang kepadamu?. " Wanita itu menjawab: "Silahkan,apa yang ingin engkau kemukakan?." Orang sholih itu berkata: "Aku ingin berterus terang kepadamu bahwa apabila aku berjabat tangan denganmu dan ternyata kujumpai tanganmu lebih manis dan lebih lembut daripada tangan istriku, maka sesungguhnya kemanisan istriku pudar dari mataku. Saya kira engkau pun akan serupa denganku, apabila engkau jumpai tanganku lebih manis daripada tangan suamimu,maka sesungguhnya kemanisan suamimu akan pudar dari matamu. Akan tetapi, apabila kita tidak berjabat tangan dan masing-masing dari kita puas dengan pasangan sendiri, maka hal ini akan mengandung kebaikan, kedamaian, dan kesucian bagi semuanya. "

                                                                                        

 - Risalah Mukminah Jangan Terpedaya 1 -

Leave a Reply